Gara-gara Beda Pilihan Politik, Lamber dan Moni Putus Cinta
Ditulis tanggal 06 Sep 2023 | Dibaca 73 kali
Cerpen ini merupakan hasil imajinasi dan pengamatan penulis melihat realita politik di Kabupaten Manggarai yang masih belum sesuai dengan demokrasi Pancasila. Cerpen ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar memiliki kesadaran dan berpartisipasi secara positif dalam politik. Melalui cerpen ini, pembaca diharapkan semakin menyadari akan pentingnya partisipasi politik dengan kesadaran dan tanggung jawab. Selamat menikmati.
Dinginnya Kota Ruteng malam itu, tak mampu menembus kulit Moni karena hangatnya pelukan Lamber. Sudah sejak dua tahun Moni mengenal Lamber. Moni merasa, Lamber adalah pria yang bisa membuatnya nyaman.
“Lamber, kamu tahu tidak tentang perasaanku?” tanya Moni.
“Kenapa memangnya..? tanya Lamber Balik.
“Aku hanya bilang. Untuk pertama kalinya, aku tak perlu mencoba bahagia. Karena saat bersamamu, hal itu terjadi begitu saja” ucap Moni sambil menatap wajah Lamber.
“Terima kasih sayang. Begitu pula perasaanku. Aku hanya nyaman berada bersamamu” ucap Lamber sambil memeluk dan mencium kening Moni.
Sikap Lamber ke Moni mulai berubah ketika beberapa hari yang lalu, usai menjemput Moni dari tempat kerjannya, di depan pintu rumah Moni, terdapat foto calon Bupati yang bukan lain adalah lawan dari calon Bupati pilihan Lamber.
“Siapa yang menempel foto ini” tanya Lamber dengan raut wajah marah.
“Oh..itu Ayah yang tempel” jawab Moni.
Lamber langsung bergegas pulang. Tidak seperti biasanya. Mampir, lalu ngopi bersama Ayahnya Moni.
Sejak saat itu, hubungan Moni dan Lamber mulai berubah drastis. Semenjak musim Pilkada, Lamber menjadi orang yang sangat berbeda. Apalagi lamber dan Moni beda pilihan politik dalam Pemilihan Bupati Tahun 2024. Situasi Pilkada telah mengubah pikiran Lamber yang tumbuh menjadi pria yang idealis. Lamber menjadi gampang marah.
Seperti hari kamis, gara-gara Moni tidak mengangkat telpon dari Lamber, ia menjadi sangat kesal. Usai menjemput Moni dari tempat kerjanya, Lamber sengaja membawa Moni ke Warung Mulia tempat biasanya mereka menghabiskan waktu berdua untuk meluapkan kekesalannya.
“Kenapa kamu tidak mengangkat telpon saya tadi siang” tanya Lamber sambil menatap ke wajah Moni.
“Maaf sayang, tadi saya banyak pekerjaan di kantor” jawab Moni dengan raut wajah capek.
“Ah..banyak alasan kamu, kenapa kamu tidak cepat merespon, telpon balik” jawab Lamber dengan nada keras, sampai orang disekitarnya yang sedang makan, kaget.
“Betul sayang, saya harus menyiapkan dokumen untuk rapat besok” jawab Moni.
“Ah…bohong kamu, kamu sudah tidak mendengarkan aku lagi, kamu sudah berbeda dengan yang aku kenal, biasanya begitu aku telpon kamu langsung menjawab atau biasanya kamu telpon balik” jawab Lamber sedikit menurunkan volume suaranya.
Dalam hati, Moni bertanya, mengapa hanya gara-gara foto calon Bupati itu, sikap Lamber menjadi berubah. Lamber menjadi begitu emosional. Karena hasratnya agar calon Bupati yang didukungnya harus menjadi Bupati, lalu siapapun orang berbeda pilihan dengannya diangap sebagai lawan. Aduh, kenapa ya, hanya gara-gara beda Pilkada Lamber menjadi berubah seperti ini.
“Lamber, kenapa situasi Pilkada membuat kamu menjadi berubah seperti ini” tanya Moni penuh kebingungan.
“Tentu, karena aku ingin orang-orang dekatku mengikuti pilihanku” jawab Lamber coba meyakinkan Moni.
“Tapi kan, tidak harus seperti itu, berbeda pilihan wajar dalam demokrasi” jawab Moni.
“Ah…tahu apa kamu tentang Pilkada, tahu apa kamu politik. Sudah, ikuti saja pilihanku” jawab Lamber.
Moni semakin bingung, kenapa Pilkada bisa merubah pikiran manusia. Toh juga nanti siapapun yang menjadi Bupati, kita ya masih seperti ini, tidak ada untungnya.
Semakin hari, sikap Lamber ke Moni semakin menjadi-jadi. Rupanya Lamber sudah tidak bisa di kasih penjelasan tentang perbedaan politik itu hal yang wajar.
“Moni, pokoknya kamu harus mengikuti pilihanku” sahut Lamber.
“Lamber, kamu tidak bisa memaksa saya mengikuti pilihanmu, kalau seperti ini terus, lebih baik hubungan kita stop sampai disini” .
Lamber dan Moni akhirnya putus. Semua yang mereka jalin selama dua tahun sia-sia. Komitmen untuk saling mencintai satu sama lain sirna hanya gara-gara beda pilihan politik.
Oleh :
Guru Mata Pelajaran PPKn
0 Komentar