SELAMAT DATANG - Percayakan anak, adik dan saudara anda pada kami !

Jemput AKM dengan Budaya Akademik Sekolah

Pasca dihapusnya Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Bersatandar Nasional (USBN) oleh Kemendikbudristek (yang sebelumnya Kemendikbud) di ubah dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk menilai capain hasil belajar peserta didik disatuan pendidikan. AKM merupakan penilain kompetensi mendasar peserta didik seperti kompetensi Literasi dan Numerasi. Berdasarkan tes PISA tahun 2018, sekitar 70% siswa Indonesia memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Sama halnya dengan ketrampilan matematika dan sains, 71 % siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk matematika dan 60% siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk ketrampilan sains.

Menanggapi kondisi ini Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemendikbudristek mengubah Ujian Nasional dan Ujian Sekolah dengan Asesmen Kompetensi Minumum (AKM). Adapun tujuan dari AKM adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan kita yang selama ini stagnan dan tidak mengalami perubahan. AKM di rancang bukan sebagai pengganti Ujian Nasional atau Ujian Sekolah tetapi, AKM di rancang untuk memetakan mutu di satuan pendidikan. 

Hasil AKM dilaporkan untuk mengevaluasi proses pembelajaran bukan sebagai syarat kelulusan peserta didik. Selain itu, AKM tidak hanya memotret hasil belajar kognitif tetapi juga memotret hasil belajar sosial emosional yang menciptakan profil pelajar Pancasila. Lalu, bagaimana strategi untuk menumbukan komptensi literasi membaca, numerasi, dan menciptakan profil pelajar Pancasila. Masih banyak sekolah yang bingung memikirkan cara-cara untuk menumbuhkan kompetensi literasi peserta didik. Walaupun banyak buku yang dijadikan rujukan literasi di sekolah, tetapi belum cukup untuk mengembangkan kompetensi litersi peserta didik.


Pentingnya Memahami Konsep AKM

Pemahaman mengenai konsep Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) penting untuk diketahui oleh guru dan orang tua. Masih banyak sekali guru yang salah menafsirkan tentang konsep AKM. Walaupun Kemendikbudristek telah menyediakan sarana belajar di akun SIM PKB guru, nyatanya masih masih banyak guru yang tidak membaca sehingga belum memahami AKM. Ada yang beranggapan bahwa AKM merupakan kebijakan pengganti Ujian Nasional (UN). Padahal kalau kita baca antara AKM dan UN berbeda tujuannya. UN bertujuan untuk mengevaluasi capain hasil belajar murid secara individu, sedangkan AKM untuk mengevaluasi mutu terkait sistem satuan pendidikan. Berikut akan dijelaskan perbandingan antara AKM dan UN.
perbandingan asesmen nasional dan ujian nasional

Pemahaman yang utuh tentang konsep AKM akan memudahkan guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Karena tujuan utama AKM menumbuhkan kompetensi literasi dan numerasi, maka desain pembelajara juga harus diarahkan untuk menumbuhkan kompetensi tersebut. Masalah terbesar sekarang adalah guru tidak mampu menjelaskan konsep AKM kepada orang tua, sehingga ini menimbulkan kecemasan.


Orang tua merasa khawatir dengan dihapusnya Ujian Nasional (UN), akan menurunkan kualitas pendidikan. Bahkan ada orang tua yang berencana memasukan anaknya ke tempat privat atau bimbel sebagai persiapan untuk mengikuti AKM. Hal lain yang menimbulkan mispersepsi adalah anak-anak atau murid merasa senang karena UN telah di hapus. Mereka beranggapan dengan dihapusnya UN tidak perlu belajar, karena kelulusan akan ditentukan oleh sekolah. Berbagai mispersepsi yang timbul berangkat dari ketidaktahuan guru, sebagai pelaku utama dalam dunia pendidikan yang seharusnya memahami betul konsep AKM. Maka sudah saatnya guru untuk memahami secara utuh tentang konsep AKM, dengan memahami konsep AKM guru akan mudah mendesai pembelajaran sesuai tuntutan AKM yaitu, menumbuhkan kompetensi literasi dan numerasi.

Selain literasi dan numerasi, di dalam AKM juga ada survey karakter yang mengerahkan siswa memiliki karakter Pancasila. Ini merupakan salah satu hal yang membedakan AKM dengan UN. UN hanya menilai capain hasil belajar siswa secara kogitif, sedangkan AKM di samping memotret hasil belajar kognitif juga memotret hasil belajar sosial emosional seperti, sikap, intoleransi, buly, dan masih banyak lagi. Lalu, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana strategi menumbuhkan kompetensi literasi dan numerasi, serta memiliki karakter Pancasila, bagaimana desain pembelajaran di dalam kelas? Berikut ini penulis akan paparkan budaya akademik sekolah menjadi sangat penting untuk mendukung menumbuhkan kompetensi literasi dan numerasi, serta mewujudkan karakter siswa profil Pancasila.

Budaya Akademik Sekolah Pendukung Utama AKM

Salah satu strategi untuk mendukung Asesmen Kompetensi Minumum (AKM) adalah dengna budaya akademik sekolah. Karena tujuan utama AKM untuk memetahkan mutu di satuan pendidikan maka Kepala Sekolah bersama guru harus menyiapkan desain pembelajaran yang menarik yang didalamnya terdapat kegiatan literasi, numerasi,dan survey karakter. Guru harus punya konsep mendesain pembelajaran yang berbasis literasi dan numerasi. Tidak melulu pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga kegiatan literasi di luar kelas. Adapun strategi menumbuhkan literasi dan numerasi di dalam kelas yaitu, dalam membuat perangkat pembelajaran seperti RPP dan Silabus, guru harus memilih metode yang tepat dan menarik, agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru dapat tercapai. Penyusunan perangkat pembelajaran harus sesuai tingkatan berpikir Taksonomi Blomm dari C1 sampai C6. Ini dilakukan untuk membentuk sikap kritis siswa sehingga bisa mengukur kemampuan siswa.


Tidak hanya kegiatan literasi di dalam kelas, kegiatan literasi juga dilakukan di luar kelas. Adapun kegiatan literasi diluar kelas seperti, membaca 15 menit sebelum masuk kelas, lomba menulis (puisi, cerpen, artikel), lomba cerdas cermat, membuat kegiatan dan mengelola anggaran untuk meningkatkan kemampuan numerasi. Budaya akedmik sekolah harus menjadi pembiasaan di satuan pendidikan untuk mendorong peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Kalau perlu, di satuan pendidikan di bentuk kelompok literasi, yang akan menjadi penanggung jawab dan memonitoring seluruh kegiatan akademik sekolah. Seluruh program akdemik ini di susun bersama oleh Kepala Sekolah dan guru, yang menjadi program kerja tahunan.

Selain itu, untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila sekolah juga merancang kegiatan pembentukan karakter seperti, do’a bersama sebelum masuk kelas, kegiatan kebersihan lingkungan, upacar bendera, dan masih banyak lagi. Budaya sekolah berperan besar dalam membentuk sikap siswa, sehingga sekolah harus benar-benar menyiapkan berbagai program yang menarik dan menyenangkan. Sudah banyak sekolah yang melaksanakan kegiatan literasi dan numerasi, bisa dijadikan contoh untuk sekolah-sekolah lain. Laporan hasil AKM akan digunakan oleh sekolah untuk mengevaluasi proses yang terjadi didalamnya, bukan sebagai syarat untuk menentukan kelulusan siswa.


Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, teman-teman bisa memahami apa itu konsep AKM, dan bagaimana strategi untuk mendukung AKM. Bukan berarti setelah UN dihapus pekerjaan guru menjadi lebih mudah, justru menjadi lebih sulit karena membentuk siswa yang literat. Siswapun demikian, tidak bisa santai, karena harus banyak membaca dan menulis.

Oleh : 
Guru Mata Pelajaran PPKn


0 Komentar

Kirim Pesan