Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Pendekatan Kontekstual
Ditulis tanggal 26 Nov 2022 | Dibaca 2431 kali
Jurnal Ilmiah :
Meningkatkan Hasil Belajar Materi “Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan” dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas X SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023
1. Latar Belakang
Salah satu materi pembelajaran Agama Katolik kelas X adalah Kesetaraan Laki- Laki dan Perempuan. Materi ini dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD),
1.2. Bersyukur kepada Allah yang menciptakan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat;
2.2. Santun sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat;
3.2. Memahami jati diri sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan;
4.2. Melakukan aktivitas (misalnya menuliskan refleksi/puisi/doa) tentang jati dirinya sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat.
Tujuan yang hendak dicapai dalam mempelajari materi kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah melalui berdoa peserta didik dapat membiasakan diri untuk bersyukur kepada Allah yang menciptakan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat dengan memilih sikap santun untuk menjelaskan jati dirinya, dalam membuat aktivitasnya (misalnya menuliskan refleksi /puisi atau doa). Namun dalam kenyataannya, masih banyak siswa kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 yang belum menguasai materi kesetaraan laki-laki dan perempuan. Berdasarkan masalah ini, ada beberapa faktor penyebabnya, baik faktor dominan maupun faktor determinan, yang akan dijelaskan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya.
2. Penyebab Masalah
Pembelajaran sebagai suatu sistem yang terstruktur, sistematis dan terencana tentu melibatkan banyak faktor, misalnya, sekolah dan sarana-prasarana yang ada, guru dan metode pembelajaran, siswa dan kesiapan mentalnya serta dukungan orang tuanya. Masalah utama dalam tulisan ini adalah masih banyak siswa kelas kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 yang belum menguasai materi kesetaraan laki-laki dan perempuan. Berkaitan dengan masalah utama ini, tentu juga ada penyebab utamanya yaitu antara guru dan siswanya.
Berdasarkan evaluasi bersama guru dan murid melalui kuisioner sederhana, ditemukan bahwa penyebab utama masalah ini adalah metode penyajian materi guru. Ada beberapa pertanyaan dalam kuisioner tersebut, yaitu:
- apakah anda senang mengikuti pelajaran Agama Katolik terkait materi kesetaraan laki-laki dan perempuan?
- jika anda tertarik dengan pelajaran Agama Katolik, apakah karena gurunya yang menarik atau teknik penyampaian materinya?
- Jika anda tidak tertarik dengan pelajaran Agama Katolik, apakah karena gurunya yang menarik atau teknik penyampaian materinya?
Dari 32 siswa dalam satu kelas ditemukan jawaban bahwa 25 siswa merasa bosan mengikuti les kerena teknik penyampaian materi oleh guru. Sesuai jawaban siswa ini, tentu peyebab dominannya adalah teknik atau metode penyampaian materi oleh guru.
Ada beberapa kajian teoritis yang membenarkan bahwa teknik atau metode pembelajaran yang dipilih guru mempengaruhi ketercapaian siswa dalam pembelajaran.
Teknik atau metode pembelajaran adalah salah satu elemen penting dalam perencanaan pembelajaran. Heinich, Molanda, dan Russell (1990) seperti yang dikutip Fatima Saguni, menyatakan bahwa rencana pembelajaran adalah susunan yang terencana dari informasi dan lingkungan untuk memudahkan siswa dalam belajar. Berdasarkan rencana pembelajaran ini, menurut Susanto (2013:50), seperti yang dikutip oleh Muhamad Yasir, proses penyampaian materi atau proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik, maupun sosialnya. Hal ini dipertegas lagi oleh Pupuh dan Sobry, S. (2010) seperti yang dikutip oleh Mardiah Kalsum Nasution, bahwa makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar, diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuan pembelajaran.
Uraian-uraian tersebut menegaskan bahwa perencanaan pembelajaran terutama metode penyampaian materi harus bisa mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang tidak tepat, tidak akan memberikan hasil yang baik pada ketercapaian siswa dalam pembelajaran. Dalam Katalis APP diutarakan bahwa pembelajaran pembelajaran tradisional harus dilepaskan karena beberapa faktor yaitu:
- peserta didik memiliki waktu terbatas dalam memahami pelajaran,
- pembelajaran sangat tergantung pada guru yang memberikan penjelasan,
- tidak ada ambang batas waktu antara satu materi dengan materi lainnya, artinya selesai tes, guru langsung melanjutkan materi tanpa melihat apakah anak didik sudah benar- benar memahami atau tidak,
- tidak ada immediate feedback, sehingga siswa harus mencari sendiri mengapa jawabannya salah.
Berdasarkan uraian-uraian teoritis dan empiris tersebut, dapat disimpulkan bahwa masalah utama yaitu masih banyak siswa kelas kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 yang belum menguasai materi kesetaraan laki-laki dan perempuan, disebabkan oleh metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat tentu dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sebaliknya, pemilihan metode pembelajaran yang salah terutama metode pembelajaran tradisional dalam pembahasan materi kesetaraan laki-laki dan perempuan tidak memberikan dampak positif bagi siswa.
3. Analisis Penyebab Masalah: Penyebab Dominan dan Penyebab Determinan
Penggunaan metode ceramah atau tradisional dalam memaparkan materi kesetaraan laki-laki dan perempuan pada siswa kelas kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 tidak memberikan hasil yang maksimal.
Sebagai upaya mengetahui hubungan penggunaan metode mengajar guru dan ketercapaian siswa, digunakan beberapa pertanyaan wawancara terhadap 10 orang guru pengampu pelajaran di kelas X yaitu :
- Apakah Bapak/Ibu mengalami masalah banyaknya siswa yang tidak tuntas?
- Apa metode pembelajaran yang Bapak/Ibu gunakan?
- Apa efek dari metode pembelajaran yang digunakan?
- Apakah Bapak/Ibu memiliki keinginan untuk menggunakan metode alternatif?
- Mengapa Bapak/Ibu ingin menggunakan metode alternatif tersebut?
Jawaban nomor satu menunjukkan 90 % guru menjawab sama yaitu lebih dari 50 % siswa tidak tuntas. Terhadap pertanyaan nomor dua, ada 8 orang guru yang menggunakan metode konvensional sementara 2 orang menggunakan metode bervariasi. Jawaban pertanyaan 3 menunjukkan bahwa ada banyak efek dari metode pembelajaran yang digunakan, siswa tidak berkonsentrasi dalam pembelajaran, ribut, mengganggu teman, bosan, dan jenuh. Berdasarkan efek metode yang mereka gunakan, maka sebagai jawaban pertanyaan nomor 4, 8 guru yang menggunakan metode konvensional berikhtiar mengubah metode pembelajaran. Menjawabi pertanyaan nomor 5, guru mau menggunakan metode alternatif karena didasarkan pada kenyataan yang ada dan pertimbangan karakteristik materi pelajaran.
Selain wawancara dengan guru, dibuat juga wawancara dengan 12 orang siswa sebagai sampel. Pertanyaannya adalah :
- Bagaimana Bapak/Ibu guru mengajar di kelas?
- Bagaimana perasaan anda ketika mengikuti pelajaran?
- Apakah anda mengikuti program remedial?
Dari 12 siswa sebagai sampel, 9 orang memberikan jawaban yang sama. Menjawabi pertanyaan nomor 1, mereka menyatakan bahwa ketika guru mengajar mereka mengunakan metode ceramah. Sebagai jawaban pertanyaan nomor 2, ada perasaan serupa yang mereka miliki yaitu bosan dan jenu. Mereka juga mengikuti program remedial hampir pada seluruh mata pelajaran
Berdasarkan observasi guru, tanda- tanda sebagai indikator dari kegagalan ini kelihatan dalam proses pembelajaran yaitu, ada ekspresi wajah yang masam, lesu, malas, dan mengantuk, ada gestur dadakan seperti tidak tenang, gelisah, mengganggu teman, dan dengan sengaja menjatuhkan balpoin. Selain itu, siswa sering minta izin pergi ke toilet. Reaksi siswa sebagai tanggapan penjelasan guru dapat ditemukan dalam teori belajar behavioristik.
Dalam kompasiana (2013) dijelaskan bahwa stimulus adalah apa saja yang diberikan oleh guru kepada peserta didik, sedangkan respon adalah berupa reaksi atau tanggapan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh guru yang harus dapat diamati dan diukur. Berdasarkan uraian tersebut, penyebab determinan pertama terhadap rendahnya pemahaman siswa kelas kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 pada materi kesetaraan laki-laki dan perempuan, adalah respon negatif siswa terhadap pembelajaran sebagai akibat dari metode pembelajaran guru.
Selain karena metode pembelajaran yang tidak menarik, penyebab determinan lain adalah siswa kehilangan bahkan ketiadaan motivasi diri (lack of self motivation) dalam belajar. Menurut St.Nurhasanah (2020), motivasi diri atau motivasi intrinsik adalah motivasi yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Motivasi ini sering disebut “motivasi murni”, atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dalam diri peserta didik, misalnya keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap untuk berhasil. Pada sisi lain, kehilangan motivasi belajar ditandai dengan beberapa hal. Media Kompasiana (2020) menyebutkan ada beberapa ciri anak kehilangan motivasi belajar, yaitu :
- siswa banyak menoleh ke arah lain saat guru sedang membimbingnya,
- siswa mengalihkan pembicaraan pada topik lain di luar pembelajaran,
- siswa tidak nyaman saat duduk,
- menutup buku atau meletakan media yang dipegangnya,
- pergi meninggalkan tempat belajar.
Bagaimana mungkin belajar akan sukses, jika seseorang kehilangan motivasi belajarnya. Jadi, kehilangan motivasi belajar adalah penyebab determinan lain yang menghambat siswa untuk sukses dalam pembelajaran.
Sehubungan dengan fakta kehilangan motivasi belajar, faktor determinan lain yang muncul adalah siswa-siswi kehilangan kreativitas dalam belajar, terutama dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Ketika guru masuk kelas untuk memulai pelajaran, siswa-siswi sedang menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu dengan menyalin pekerjaan teman. Demikian juga ketika menyelesaikan tugas dalam kelas, sebagian siswa hanya menyalin pekerjaan teman. Ada kebiasaan menyontek pada teman atau buku ketika mengerjakan ulangan atau ujian. Selain itu, ketika mengerjakan tugas juga ada kebiasaan mengambil dari internet tanpa mengolahnya. Pemandangan plagiarisme ini tentu menjadi indikasi ketiadaan kreativitas. Seorang siswa seharusnya kreatif, seperti yang diuraikan dalam blog Voice Teacher (2014) dengan ciri-ciri yaitu,
- mempunyai daya imajinasi yang kuat,
- inisiatif,
- bebas dalam berpikir,
- selalu ingin mendapatkan pengalaman baru,
- percaya pada diri sendiri dan penuh semangat,
- berani mengambil risiko,
- berani dalam berpendapat,
- minat yang luas,
- berkeyakinan, dan
- bersifat ingin tahu.
Data guru bimbingan konseling pada
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng pada semester ganjil 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang meminta layanan konseling adalah siswa yang terkendala terkait orang tuanya. Siswa-siswi mengakui tidak merasa betah berada di rumah karena orang tua sering bertengkar, orang tua tidak menanyakan pengalaman anak di sekolah, jarang berada di rumah karena pekerjaan, dan orang tua bercerai. Menurut Niken Maharani, Amala Sari dan Siti Amanah (2023), anak Broken Home cenderung memiliki perilaku yang berbeda dengan anak-anak lainnya yang masih memiliki keluarga utuh. Perbedaan tersebut seperti sifat pendiam, keras kepala, menarik diri bahkan menentang orang tuanya. Situasi ini tentu akan merusak kepribadian anak secara umum dan anak kehilangan motivasi dalam belajar.
4. Pembelajaran Kontekstual
Penyebab dominan dari rendahnya minat belajar siswa kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 pada materi kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah metode pembelajaran guru yang tradisional. Guru terbiasa dengan menggunakan ceramah sehingga mengabaikan peran siswa dalam pembelajaran. Penyebab utama ini melahirkan beberapa penyebab determinan yang tentu saling berkaitan pada hubungan sebab akibat.
Penyebab determinan tersebut adalah,
pertama, respon negatif siswa dalam pembelajaran yaitu ada ekspresi wajah yang masam, lesu, malas, dan mengantuk, ada gestur dadakan seperti tidak tenang, gelisah, mengganggu teman, dan dengan sengaja menjatuhkan balpoin.
Kedua, siswa kehilangan bahkan ketiadaan motivasi diri (lack of self motivation) dalam belajar yang ditandai dengan ketidakseriusan dan ketidaknyamanan dalam pembelajaran.
Ketiga, siswa-siswi kehilangan kreativitas dalam belajar, terutama dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Siswa terbiasa dalam pola plagiarisme yang mematikan kreativitas.
Keempat, kurangnya dukungan dan perhatian orang tua.
Siswa- siswi mengakui tidak merasa betah berada di rumah karena orang tua sering bertengkar, orang tua tidak menanyakan pengalaman anak di sekolah, jarang berada di rumah karena pekerjaan, dan orang tua bercerai.
Berdasarkan penyebab dominan dari masalah rendahnya rendahnya minat belajar siswa kelas X
SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Tahun Pelajaran 2022/2023 pada materi kesetaraan laki-laki dan perempuan, maka diperlukan pendekatan kontekstual. Mengapa pendekatan kontekstual?
Ada dua teori yang melatar belakangi lahirnya menyatakan: Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), yaitu teori progresivisme John Dewey dan teori kognitif. Menurut Nurhadi (2003:8) yang dikutip oleh Isra Nurmai Yenti, pokok-pokok pandangan progesivisme antara lain:
- Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh guru.
- Anak harus bebas agar bisa berkembang wajar.
- Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar.
- Guru sebagai pembimbing dan peneliti.
- Harus ada kerjasama antara sekolah dan masyarakat.
- Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen.
Teori kognitif menegaskan bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. Hasil belajar yang diperoleh oleh siswa dapat berupa apa yang mereka ketahui dan apa yang yang dapat mereka lakukan.
Para ahli seperti yang dikutip oleh Muchlisin Riad, mendefinisikan pengertian pembelajaran kontekstual. Menurut Mulyasa (2004), pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Fathurrohman (2012), pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri. Menurut Sanjaya (2005), pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya pada kehidupan mereka. Johnson (2002), menjelaskan pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungi subjek-subjek akademik yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka, yakni konteks pribadi, sosial, dan budaya. Jadi pembelajaran kontekstual adalah proses pendekatan pembelajaran yang bermakna karena siswa terlibat secara penuh dalam pembelajaran sehingga siswa bisa memperoleh pengetahuan dari realitas dan menarik hubungan antara pengetahuan dan kehidupan yang nyata.
Karakteristik pendekatan kontekstual (Reflina Octavia, 2023) yaitu,
- Proses pendidikan dilakukan secara menyenangkan.
- Pembelajaran yang dilakukan dalam situasi nyata berarti siswa dilatih untuk memecahkan masalah nyata.
- Pembelajaran memberi siswa kesempatan untuk menyelesaikan tugas penting.
- Pembelajaran dilakukan melalui pengalaman yang bermakna bagi siswa.
- Pembelajaran dilakukan lewat kerja kelompok, diskusi, dan koreksi satu sama lain.
- Kebersamaan, kerja sama, dan pemahaman satu sama lain adalah komponen pembelajaran yang menyenangkan.
- Pembelajaran dilakukan secara aktif, kreatif, produktif, dan menghasilkan sesuatu yang diukur dengan kerja sama.
Dalam Blok Kanwil Kemenag Provinsi Bangka Belitung (2020), disebutkan komponen utama model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning) adalah sebagai berikut:
1. Konstruktivisme (constructivim)
Kanstruktivisme yaitu mengembangkan pikiran siswa untuk belajar lebih baik dengan cara bekerja sendiri, mengkonstruksi sendiri, pengetahuan dan ketrampilan barunya. Hal ini adalah landasan berpikir pembelajaran bagi pendekatan Contextual Teaching Learning. Pengetahuan riil baginya adalah suatu yang dibangun atau ditemukan oleh siswa sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang harus diingat siswa, tetapi siswa harus merekonstruksi pengetahuan itu kemudian mengartikan melalui pengalaman nyata.
2. Menemukan (Inquiry)
Inquiry merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis, proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, siswa belajar dengan ketrampilan berfikir kritis. Dalam hal ini guru harus merencanakan situasi kondusif supaya siswa belajar dengan prosedur mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian (investigasi), menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.
3. Bertanya (question)
Question adalah mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan dialog interaktif oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam komunitas belajar. Dengan demikian pembelajaran lebih hidup, mendorong proses dan hasil pembelajaran lebih luas dan mendalam. Dengan question mendorong siswa selalu bersikap menolak suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Hal ini mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami (coriosity) berbagai teori dan dapat mendorong untuk belajar lebih jauh.
4. Masyarakat belajar (learning commonity)
Learning commonity adalah pembelajaran yang didapat dari berkolaborasi dengan orang lain. Dalan pembelajaran ini selalu dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu dan seterusnya. Dalam prakteknya terbentuklah kelompok-kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, berkolaborasi dengan kelas paralel, bekerja kelompok dengan kakak kelas dan berkolaborasi dengan masyarakat.
5. Pemodelan (modeling)
Dalam pembelajaran perlu ada model yang dapat dicontoh oleh siswa. Terkait hal ini model bisa berupa cara mengoperasikan, cara melempar atau menendang bola dalam olah raga, cara melafalkan dalam bahasa asing, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Ketika guru sanggup melakukan sesuatu maka siswa akan berfikir sama bahwa dia juga bisa melakukannya.
6. Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan suatu upaya untuk melihat, mengorganisir, menganalisis, mengklarifikasi dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari. Untuk merealisasikan, di kelas dirancang pada setiap akhir pelajaran, guru menyisakan waktu untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi dengan cara : pernyataan langsung dari siswa tentang apa apa yang diperoleh setelah melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa tentang pembelajaran hari itu, diskusi dan ragam hasil karya.
7. Penilaian Otentik (authentic assessment)
Untuk mengukur hasil pembelajaran selain dengan tes, harus diukur juga dengan assessment authentic yang dapat memberikan informasi yang benar dan akurat tentang apa yang benar-benar diketahui dan bisa dilakukan siswa atau tentang kualitas program pendidikan. Penilaian otentik adalah proses pengumpulan data beragam data untuk melukiskan perkembangan belajar siswa. Data tersebut berupa hasil tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya siswa, performance (penampilan presentasi) yang dirangkum dalam portofolio siswa.
Pengertian, karakteristik, dan komponen pendekatan kontekstual memberikan warna khas pembelajaran yang membedakannya dengan pembelajaran konvensional. Menurut Nuryana (2021), ada beberapa perbedaan pendekatan kontekstual dan pembelajaran konvensional.
Oleh :
Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik
Daftar Pustaka
- Kalsum Nasution, Mardiah. 2017. Penggunaan Metode Pembelajaran Dalam Peningkatan Hasil Belajar Siswa, diakses pada 2 September 2023.
- Katalis APP, 2019. Mengapa Metode Pembelajaran Tradisional Tidak Efektif, diakses pada 2 September 2023.
- Kanwil Kemenag Provinsi Bangka Belitung. 2020. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL), diakses pada Rabu, 6 September 2023
- Kompasiana (2013), Teori Belajar Stimulus dan Respon, diakses pada 2 September 2023.
- Kompasiana (2020), 8 Ciri Semangat Belajar Anak Mulai Turun Dan Cara Mengatasinya, diakses pada 2 September 2023.
- Nurhasanah, St. (2020), Pentingnya Motivasi Dalam Mendorong Minat Belajar Siswa, diakses pada 2 September 2023.
- Nuryana, Ari (2021), Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional Dan Penerapannya Di Kelas (Analisis Pendekatan Pembelajaran PAI), diakses pada 2 September 2023.
- Riad, Muchlisin. 2022. Pembelajaran Kontekstual, diakses pada Rabu, 6 September 2023.
- Revlina Octavia, Artrisdyanti.2023. Pendekatan Kontekstual: Pengertian, Karakteristik, dan Komponennya, diakses pada Rabu, 6 September 2023.
- 1Saguni, Fatimah. 2019. Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar, diakses pada 2 September 2023.
- Thabroni, Gamal. (2022), Pembelajaran Kontekstual (Model Pembelajaran CTL), diakses pada Rabu, 6 September 2023
- Yenti, Isra Nurmai.2016. Pendekatan Kontekstual (CTL) Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran matematika, diakses pada Rabu, 6 September 2023.
0 Komentar